Place Your Ad Here

Saat Tulang Punggung Mendamba Menjadi Tulang Rusak

Dia usiaku yang sekarang ini sebenarnya sangat wajar jika pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti datang.  Apalagi aku sudah menyelesaikan pendidikan S1. Waktu yang sangat ideal sebenarnya. Tidak hanya wajar dipertanyakan, sejujurnya, keinginan tersebut kadang juga mulai terbersit. Pasti hidupku lebih mudah karena ada suami untuk berbagi. Namun aku tidak sendiri di dunia ini. Bagaimana mungkin aku memikirkan hidupku sendiri.

Mendamba menjadi tulang rusuk. Photo via hdfreewalpaper.net


Aku anak sulung. Mengingat betapa berat hidup kami dan beberapa adikku yang masih sekolah maka aku sudah berjanji setelah tamat S1 akan mengambil alih tugas ayah yang sudah sakit-sakitan untuk menjadi tulang pungung keluarga. Lalu setelah menikah bagaimana dengan keluargaku?

Akankah suamiku masih mengizinkanku untuk menjadi tulang punggung keluargaku? Aku tidak yakin. Jika begini bagaimana mungkin tulang punggung nak berangan menjadi tulang rusuk? Keluarga yang selalu menjadi prioritas utama bagiku akhirnya  membuatku menyimpan dulu keinginan untuk menjadi tulang rusuk. Jika aku menikah nanti sudah pasti suami menjadi prioritas, lalu bagaimana dengan keluargaku? Adik-adikku? Keponakanku?

Aku menyibukkan diri sepenuhnya untuk bekerja dan menutup diri dari laki-laki  sebab aku takut akan ada perasaan yang melibatkan hati.  Hal ini terkadang membuat keluargaku merasa bersalah, apalagi kedua orang tuaku. Mereka menyesali diri sebab sudah tua dan tidak lagi bisa bekerja lebih keras. Beberapa kali bahkan tidak sengaja kudengar ayah dan ibu meminta adik-adikku berhenti dulu saja kuliah karena tidak tega denganku yang bekerja siang malam, berkorban tanpa lelah.

Ayah, Bunda, untuk keluarga kecil kita, kakak tidak pernah merasa lelah. Ada ketenangan batin yang luar  biasa saat bisa menekan keinginan demi kebahagiaan keluarga” ucapku sore ini sambil memeluk bahu ibu.

Apa keinginanmu Nak? Kau ingin menikah?” tanya Ibu
Aku terdiam. Aku keceplosan menyebut menekan keinginan. Aku tersenyum dan menggeleng. Belum Bu. Nanti setelah adik-adik menyelesaikan kuliahnya.

Menikahlah jika sudah kau temukan jodohmu Nak. Bagaimanapun menikah adalah ibadah. Bagaimanapun kau harus mempunyai seseorang yang bisa menjagamu, melindungimu. Kau sudah terlalu lelah. Mungkin ayah dan ibu tidak bisa penuhi kebutuhan adik-adikmu sepenuhnya. Namun mereka pasti akan mengerti."

Iya nanti Bu, sekarang aku belum punya calon kok. Jadi sebelum itu biarku baktikan diri untuk keluarga sebelum aku nanti dimiliki oleh orang lain,” mengucapkan itu ada air mata yang mengalir di pipiku. Takut sekali rasanya jika suatu saat aku harus berhenti memberi nafkah untuk keluargaku. Bukan tanpa alasan ketakutanku begini.

Aku punya seorang teman. Sama sepertiku, dia anak sulung. Setelah tamat kuliah dia menikah dan diajak suaminya tinggal di luar kota. Sejak itu, Dahlia, begitu namanya sudah sangat jarang pulang meninggalkan ibunya yang seorang janda dan tiga orang adiknya yang masih kecil. Jangankan pulang, Dahlia konon sudah  tidak lagi mentranfer uang untuk adik-adiknya. Untung Ibu Dahlia punya sebuah toko kecil yang bisa dijadikan sumber penghasilan. Sedangkan ibu dan ayahku mereka yang sudah tua dan lemah.

Alasan lainnya adalah Kak Fatan, salah satu seniorku di tempat kerja. Dia seringkali bicara di tempat kerja kalau dia ingin mendapatkan istri anak tunggal atau anak bungsu dengan alasan dengan begitu perhatiannya jadi sepenuhnya pada suami. Hal ini juga berangkat dari pengalaman Kak Fatan yang katanya dulu pernah punya istri anak sulung namun sang istri justru lebih sayang pada adik-adiknya dan sering memberi uang untuk orang tua dan adik-adiknya.

Keadaan tersebut membuat Kak Fatan akhirnya bercerai dengan istrinya yang pertama. Hal itu membuatku berfikir. Anak sulung yang menjadi tulang punggung bukanlah sosok istri yang diidamkan oleh seorang laki-laki karena perhatiannya akan terbagi-bagi. Jika begitu laki-laki mana pula yang hendak mengambil tulang punggung untuk menjadi tulang rusuk?

Hal itu membuatku akhirnya memutuskan, baiklah aku akan  menunda dulu hingga adikku benar-benar terjamin dan aku mendapatkan modal yang besar untuk orang tuaku jika suatu saat suamiku membawaku pergi meski memang aku tidak tahu sampai kapan aku harus menunggu.

Sekarang usiaku sudah 28 tahun. Benar-benar bukan usia yang muda lagi. Beberapa kali memang ada yang datang tapi aku selalu menolak dengan cara yang halus. Alasan-alasan aku merupakan tulang pugggung ternyata begitu mudah diterima oleh para laki-laki sebab mungkin mereka juga tidak begitu siap turut menanggung keluargaku.

Hingga pada suatu hari ayahku sakit. Layaknya orang tua lainnya, seringkali ayah menanyakan kapan aku menikah? Adikku yang perempuan sedang menyelesaikan pendidikan S2-nya sedang si bungsu baru duduk di tahun ke 2 di universitas. Belum. Mereka belum sepenuhnya selesai. Aku masih sepenuhnya tulang punggung yang bertanggung jawab untuk kedua orang tuaku dan kedua adikku. Jadi aku berfikir ini masih belum waktuku untuk menikah.

Aku melihat banyak sekali perasaan campur aduk di wajah ayah. Mulai dari perasaan merasa bersalah, kasihan padaku, dan juga ketakutannya pergi sebelum sempat menikahkanku. Aku duduk di pembaringan ayah. Aku memegang tangannya dan tidur di pergelangan tangan ayah.

Maafkan aku ayah”
Entah sampai kapan aku akan seperti ini terus. Tidak aku tidak lelah sebenarnya, tidak juga  menyesali semuanya, bayangan dosa serta tidak membahagiakan ayah di penghujung usianya membuatku takut. Hingga pada suatu hari Allah selipkan sebuah skenario paling indah diantara yang indah dihidupku.

Seseorang melamarku. Dia adalah orang yang memang sejak lama sebenarnya aku suka. Aku langsung menerimanya. Ya, tanpa pikir panjang aku langsung menerimanya. Kenapa? Apa dia begitu tampan sehingga aku langsung terhipnotis? Tidak dia biasa-biasa saja. Apa dia pintar sehingga aku terpikat? Tidak juga.

Jangan-jangan dia kaya dan mau menanggung keluargaku dan tidak keberatan aku bekerja untuk keluargaku? Salah. Dia bahkan baru merintis karir dari bawah. Usaha kecil-kecilan. Lalu apa yang membuatku langsung menerima bahkan tanya berfikir?

Kelapangan jiwanya, aku terpesona dan tidak menyangka. Ini yang diucapkannya saat aku bilang aku tulang punggung keluargaku yang punya tanggungan berat.

Keluargamu, keluargaku. Kamu tulang punggung keluargamu tapi kamu tulang rusukku yang jadi tanggunganku. Jadi keluargamu otomatis tanggunganku. Jika kamu keberatan dengan itu maka “ mari jadi tulang punggung bersama-sama

Aku lega, bukan karena dia mau menanggung aku dan keluargaku tapi karena dia mau sama-sama berjuang menjadi tulang punggung. Itu artinya dia tidak akan membatasiku untuk terus memberi perhatian pada keluargaku.  Rahasia Allah Maha Indah.[HW/Cerpen oleh Yefra Desfita Ningsih]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Saat Tulang Punggung Mendamba Menjadi Tulang Rusak"

Post a Comment