Place Your Ad Here

Hayooo Yang Lagi Galau, Pilih Dicintai atau Mencintai?


Saya jadi teringat dengan sms yang diterima oleh salah seorang adik saya beberapa waktu lalu.

" Lebih baik mencintai orang yang mencintaimu daripada mencintai orang yang kamu cintai karena orang yang kamu cintai belum tentu mencintaimu, " begitulah kira-kira isi sms-nya.

Pada waktu itu, sms tersebut tidak terlalu "nyangkut" di pikiran dan hati saya. Saya menganggapnya angin lalu saja. Tapi akhir-akhir ini, saya kepikiran dan mencoba untuk sedikit mengulasnya berhubung juga terkait dengan curhat seorang sahabat pembaca kepada saya beberapa waktu yang lalu.

Merujuk kepada sms tersebut, "mencintai orang yang mencintaimu" dianggap sebagai pilihan terbaik. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Bagaimana pun, cinta atau tidaknya dengan seseorang tidak bisa dijadikan satu-satunya alasan mengapa Sobat memilih atau tidak memilih orang tersebut.

Ada orang yang katanya mencintai tapi tidak menjalankan agama, akhlaknya kurang baik, tidak membuat Sobat nyaman, tidak menghargai dan tidak "sevisi-misi" dengan Sobat, apakah Sobat tetap harus menerima dengan alasan karena dia mengatakan kalau dia mencintai Sobat?

Ada orang yang terus bertahan dengan alasan bahwa dia bisa merubah sifat yang bersangkutan. Tapi ketahuilah bahwa perubahan itu harus datang dari diri yang bersangkutan bukan karena Sobat sebab sejatinya perubahan itu adalah untuk dirinya sendiri.

Jika Sobat terus bertahan dalam keadaan yang seperti ini dan tetap ngotot ingin menikah dengannya, artinya Sobat harus siap-siap kebal dari rasa kecewa, siap-siap untuk tidak menyesal, harus rajin berdoa semoga hati Sobat benar-benar luas dan sabar. Sobat juga dituntut untuk tidak lelah berjuang agar yang bersangkutan bisa berubah dan mendapat hidayah tapi dengan catatan "tidak tau harus sampai kapan? "

Di sisi lain, memaksakan diri dengan alasan dan keadaan tersebut, dikhawatirkan juga tujuan pernikahan  kurang tercapai karena menikah sejatinya bukanlah untuk sementara waktu tapi dalam jangka panjang. Juga tidak hanya terkait dengan dua orang (suami atau isteri) tapi juga anak nantinya serta keluarga kedua belah pihak.

Bukankah salah satu harapan seorang perempuan adalah menikah dengan lelaki yang bisa menjadi imam yang baik?

Bukankah salah satu harapan seorang lelaki adalah menikah dengan perempuan yang bisa menjadi madrasah yang baik bagi anak-anaknya? 

Sobat mungkin merasa nyaman dengan seseorang. Orangnya sholeh, baik dan membuat Sobat merasa sejiwa dengannya tapi dia tidak mencintai Sobat, apakah kebaikannya menurut penilaian Sobat tersebut tepat menjadi alasan untuk terus mempertahankan perasaan dan harapan sampai waktu yang tidak ditentukan?

Bagaimana pun seseorang tidak bisa menggantungkan hidup pada seseorang yang "tidak jelas'. Hidup harus terus berjalan. Hidup tidak boleh mandeg /stagnan karena seseorang yang tidak bisa menghargai kehadiran Sobat. Orang tua, kakak, adik, sahabat dan orang lain juga menunggu "kehadiran" Sobat. Terlalu disayangkan bila menghabiskan hidup untuk menunggu seseorang yang Sobat belum tentu berarti bagi dirinya.

Memang saling mencintai itu adalah sesuatu yang sempurna. Dicintai oleh orang yang kita cintai sungguh membahagiakan.

Lantas, kalau ada orang yang berakhlak baik, kuat agamanya, membuat Sobat nyaman dan memiliki prinsip serta cara pandang hidup yang sejalan dengan Sobat, apakah Sobat harus menolaknya dengan alasan karena tidak mencintainya?

Duhai Sobatku, tidak semua orang yang saat ini memiliki pernikahan yang langgeng dan bahagia berawal dari "saling mencintai". Ada orang yang menikah melalui perkenalan singkat yang didukung oleh orang-orang terdekat dari kedua belah pihak.

Mereka kadang belum ada rasa "cinta" tapi mereka memiliki "visi misi" yang sejalan, prinsip hidup yang kurang lebih sama, sama-sama sudah siap untuk menikah dan memiliki niat yang suci. Hal inilah yang kemudian mereka bawa untuk memulai sebuah hubungan.

Cinta mereka mulai tumbuh, bersemi dan terus bertahan seiring dengan usia pernikahan mereka. Mereka menikah bukan hanya karena faktor "perasaan" tapi lebih kepada "layak atau tidak layaknya seseorang menjadi seorang isteri/suami atau menjadi seorang ayah/ibu" untuk anak-anak mereka kelak.

Saling mencintai sebelum memasuki pernikahan bukanlah jaminan rumah tangga akan bertahan lama. Begitu juga, tidak mencintai ketika akan menikah juga tidak berarti pernikahan tersebut jauh dari bahagia. 

Memang harapan semua orang bisa melangkah ke jenjang pernikahan dengan orang yang sama-sama mencintai tapi berbagai keadaan membuat harapan tersebut tidak terwujud. Berbahagia dan bersyukurlah bila Sobat bisa bersama dengan orang yang saling mencintai.

Jika tidak, Sobat juga tidak perlu bersedih hati dan menggantungkan nasib pada hal itu. Bersyukurlah karena ada seseorang yang mencintai Sobat.

Ada pilihan lain untuk mencapai cinta
Salah satunya dengan  mencoba menerima serta belajar mencintai orang yang mencintai Sobat dan berusaha ikhlas melepaskan orang yang Sobat cintai (tapi tidak mencintai Sobat). Belajar mencintai orang yang mencintai Sobat memang salah satu pilihan yang layak untuk dipertimbangkan selama orang tersebut:

  • Baik agama, kepribadian dan Sobat merasa nyaman untuk menjalani hidup dengannya.
  • Mau belajar menerima kelebihan & kekurangan, bisa saling mendukung untuk maju di masa depan, saling melengkapi dan mau bersama baik dikala susah maupun senang.
  • Memiliki niat yang lurus dalam membina sebuah hubungan
  • Memiliki kemauan untuk belajar menjadi suami/isteri serta ibu/ayah yang baik.
  • dan sebagainya 

Belajar untuk berhenti mencintai orang yang tidak mencintai Sobat merupakan pilihan terbaik karena kita tidak bisa memaksa agar orang yang kita cintai bisa  mencintai kita. Tapi dengan seiringnya waktu yang dijalani bersama, kita bisa belajar mencintai orang yang mencintai kita. Seperti ungkapan dalam bahasa Jawa witing tresno jalaran soko kulino, cinta bisa juga datang karena terbiasa.

Nah, Sobat masih galau? Semoga ulasan saya yang sederhana ini memberikan pencerahan dan membuka jalan pikiran. Apapun jalan yang Sobat pilih nantinya, semoga memberikan kebaikan untuk agama, masyarakat/negara, diri, keluarga dan pasangan ya.[ HW/Elshabrina]
          

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hayooo Yang Lagi Galau, Pilih Dicintai atau Mencintai? "

Post a Comment