Place Your Ad Here

Hidup di Antara Mimpi, Usaha dan Kesempatan Usia


Pagi ini saya terjaga dari tidur karena mimpi yang sedikit aneh dan begitu saya tatap langit-langit rumah, kelihatan sudah terang.

Sepertinya sudah pagi, ”pikir saya. Ketika saya melirik jam, ternyata baru pukul 03.00 WIB.

Setelah  sejenak mengistirahatkan jiwa dan curhat kepadaNya, sambil menunggu beduk  Shubuh, saya menyempatkan diri membaca beberapa informasi. Alangkah kaget dan tidak percaya ketika saya mendapati berita kematian dua orang sahabat.

Salah seorang berkata bahwa beberapa hari yang lalu dia masih bercerita panjang lebar dengan sahabat yang meninggal itu tapi tak lama kemudian malaikat maut menjemputnya.

Sungguh tidak disangka, teman-teman sebaya saya sudah ada yang menghadap Kuasa terlebih dahulu. Diri ini tidak bisa merasa masih muda, jadi berpikir hidup masih panjang”, saya bicara dalam hati sambil termenung.Berita kedua yang tak kalah membuat saya tersentak tentang seorang sahabat yang meninggal pas di hari pesta pernikahannya. “Ya Allah, betapa Engkau menunjukkan kematian bisa datang kapan saja bahkan di saat hari bahagia. Saat bersanding pun maut bisa datang,” saya makin termenung.

Tidak tahu mengapa, mata saya jadi berkaca-kaca. Berita kematian memang selalu meninggalkan kenangan dan kesan yang mendalam. Entah karena takut, merasa belum siap atau entah kenapa.

Seabrek keinginan dalam hidup di dunia

Bila dilihat kembali, secara umum ada beberapa fase yang dilalui dalam hidup ini. Lahir, merangkak, berjalan, sekolah, kuliah, bekerja, menikah, berkeluarga, tua dan meninggal. Dalam menjalani fase demi fase tentu banyak hal yang telah terjadi.

Juga ada beragam keinginan dan harapan sebagai manusia. Ingin mendapatkan pekerjaan yang bagus. Ingin memiliki penghasilan yang cukup. Ingin naik jabatan. Ingin ke tanah suci. Ingin jalan-jalan ke luar negeri. Ingin bertemu jodoh dan menikah. Ingin bebas dari tanggungjawab. Ingin punya anak. Ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.  Ingin punya ini itu dan sebagainya.

Selain keinginan yang seabrek. Ada juga ujian dan kegagalan yang kadang membuat sebagian kita merasa tidak kuat lagi hidup, merasa tidak beruntung. Kadang tanpa sadar sebagian kita merasa berkecil hati karena Tuhan menguji dan menguji sementara orang lain begitu mudah mencapai impiannya.

Keinginan itu tak berbatas, tapi usia terbatas. Ini adalah poin utamanya.

Kadang dunia  kita terfokus pada satu atau beberapa keinginan dan harapan itu sehingga melupakan bahwa diri tidak hanya berpacu dengan waktu untuk mewujudkan keinginan itu satu persatu tapi juga berada di bawah bayang-bayang  kematian. Terlena dan sering lupa jatah usia berkurang detik demi detik.

Apakah bekal amal-amal saya sudah mantap bisa dibawa nanti?
Apakah nanti saya bisa membahagiakan orang tua?
Apakah saya bisa menggenapkan separuh agama saya dan berjodoh dengan seseorang?
Apakah harapan-harapan akan menjadi kenyataan?
Apakah tangggungjawab-tanggungjawab saya bisa selesai?
Apakah saya bisa meninggal dalam keadaan tenang tanpa melalaikan hak orang lain yang ada dalam diri saya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan. Rasanya saya makin gelisah. Kemudian saya ingat bahwa selama hidup sampai berapa pun tua usia kita mungkin masih ada impian yang belum terwujud. Saya  juga ingat kata-kata Muhammad Sholeh bahwa setiap orang seperti apapun jauh dekatnya dengan cita-citanya tetap saja perjalanannya akan ditutup dengan kenangan.

Hm..bagaimana bisa kita angkuh dengan pencapaian kita,
Bagaimana bisa kita sombong dengan kelebihan kita,
Bagaimana bisa kita putus asa dengan kesulitan kita,
Bagaimana bisa kita menyalahkan nasib dan takdir kita,
Toh, sama-sama ke dalam tanah jua kita semua akan berada.

Saya pun nelangsa dan teringat kembali kabar kematian dua orang sahabat tadi.

Memang kita bisa meninggal kapan saja termasuk dalam usia muda dan mungkin kita tidak bisa mewujudkan beberapa impian kita tapi itu tidak menjadi batu sandungan mengapa kita menyia-nyiakan kesempatan.

Meski hidup akan terus dilengkapi dengan cobaan-cobaan, ketakutan dan kesedihan.
Meski hidup akan berakhir dengan kenangan.
Namun, jika tiada keberanian menerima dan menjalani hidup, maka kita telah menjadi manusia hidup yang telah mati. Manusia yang mati sebelum mati. Ini jauh lebih mengerikan.

Yap, berani lebih hidup dalam usia dan usaha yang terbatas, itulah salah satu tugas dalam hidup. Karena keterbatasan, mungkin tidak semua impian saya  yang terwujud nanti, mungkin tidak semua janji yang bisa dipenuhi, mungkin tidak semua tanggungjawab yang bisa diselesaikan. Paling tidak saya berani hidup untuk mengusahakannya dan memperbaiki kualitas diri sebelum menghadapNya,” ucap saya lirih sambil menyeka air mata. [HW/Fitzel]


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hidup di Antara Mimpi, Usaha dan Kesempatan Usia"

Post a Comment