Place Your Ad Here

IKHTIAR dan DOA, 2 Kunci Terwujudnya Takdir

HIJABERSWORLD.COM---Setiap saat kita selalu memohon yang terbaik. Allah mungkin sudah menjawab doa-doa kita secara tidak langsung. Sesuatu yang terbaik mungkin sudah ada dihadapan. Namun, kita sendiri yang tidak bisa mengenali karena mata, hati dan pikiran yang tertutup. Sesuatu yang diharapkan mungkin sudah sangat dekat tapi kita yang tidak bisa "menemukan" dan "melihatnya".

Bahkan ketika hati bicara bahwa sesuatu itu yang terbaik, kita sering mengabaikannya karena ego, nafsu dan keserakahan.  Kita berpikir " pasti masih ada yang lebih baik dari ini, ini masih kurang baik, saya ingin mendapat yang lebih baik dari orang lain dan sebagainya".

Kenali takdir dan siapkan diri menerima takdir
Mungkin juga kita tidak mendapat yang terbaik karena kita sendiri yang merasa "tidak layak" dan tidak siap dengan yang terbaik tersebut. Kalau memang begitu apa gunanya kita selalu memohon yang terbaik? Sementara ketika yang baik itu ada dan kita bisa mengenalinya, kita menghindari dan bahkan tidak mau menerima.

Jika memang menginginkan yang terbaik, maka juga harus berusaha menjadi yang terbaik. Tak peduli seperti apapun kekurangan yang dimiliki, setiap orang pantas mendapat yang terbaik selama hidupnya diisi dengan niat yang baik.Ketika kemudian Allah memberikan yang terbaik dihadapan, kita pun berusaha memantaskan atau melayakkan diri agar pantas mendapat yang terbaik itu. Bukan sebaliknya.

Jika  menghindari dan tidak mau "melayakkan diri" kenapa tidak berpuas diri saja menerima apa yang ada? Untuk apa meminta yang lebih baik sementara kita merasa minder menerimanya? Begitu kesempatan berlalu dan ketika tidak mendapatkan yang lebih baik dari sebelumnya kita pun meratapi.

“ Ya Allah, kenapa saya cuma mendapat yang seperti ini? 
“ Apakah saya tidak pantas mendapat yang lebih baik dari ini?

Allah selalu memberikan yang terbaik hanya saja kita yang tidak bersyukur dan tidak mau menjemput, ingin menunggu saja tanpa usaha. " Allah tidaklah menurunkan rezeki langsung dari langit. Namun, dibutuhkan "sesuatu" agar rezeki itu turun dari langit".

Dengan dalih memasrahkan diri dan keimanan, kita sering lupa bahwa sumber dan pintu rezeki itu harus dijemput bukan ditunggu. Kita selalu bilang bahwa Allah tidak pernah lupa dengan kita tapi itu bukan alasan bagi kita untuk tidak bertindak.

Sama seperti halnya makan, kita harus berusaha mengambil piring, nasi dan mengunyahnya. Kita tidak kenyang dengan sendirinya kalau kita tidak berusaha memakannya. Begitu juga dengan rezeki kita.

Berhenti menunggu, mulai menjemput
Memang Allah Penyayang dan Pengasih,
Memang Allah Maha Mendengar,
Memang seekor burung pun sudah dijamin Allah rezekinya, begitu juga dengan manusia.
Tapi apakah sudah berusaha untuk menjemput pemberian Allah itu atau hanya menunggu?

Meskipun paham, kadang kita masih lupa dalam dunia nyata bahwa pasrah itu setelah berusaha bukan sebelum berusaha.
Kalau belum berusaha untuk menjemput rezeki, bagaimana mungkin Allah akan memberikannya kepada kita?
Bahkan ketika sudah berusaha menjemput pun, belum tentu hasilnya sesuai harapan. Allah kadang masih menguji, menguji dan menguji.
Menjemput saja belum tentu membawa hasil apalagi hanya menunggu.

Kadang kita berpikir bahwa bila sesuatu telah ditakdirkan maka akan terjadi baik seseorang berusaha atau tidak. Kita harus selalu waspada agar tidak terjerumus pada kekeliruan tawakal terhadap takdir. Binatang saja yang tidak memiliki akal terus berusaha memenuhi keperluan hidupnya, apakah pantas manusia yang berakal berpikir bahwa Allah akan "menghidangkan" sesuatu begitu saja tanpa ada "SEBAB" ?



Dalam "Terapi Penyakit Hati", Ibnul Qoyyim al-Jauzi mengingatkan bahwa sesuatu ditakdirkan dengan berbagai sebab. Segala sesuatu ditakdirkan tidak lepas dari sebab-sebabnya. Oleh karena itu, bila seorang hamba membawa sebab tersebut, takdir pasti terjadi. Namun, bila ia tidak membawa sebab tersebut, takdir tidak akan terjadi.

Beberapa dari sebab itu adalah adanya IKHTIAR dan DOA.
Ketika orang lain lebih murah rezeki, bahagia dan impiannya terwujud, mungkinkah karena ikhtiar dan doa mereka jauh lebih banyak dari kita? Ya, itu mungkin saja karena mereka memang membawa "sebab" yang lebih banyak dibanding kita sehingga banyak harapannya yang menjadi nyata.

Tidak ada yang salah ketika kita meminta padaNya, yang kurang tepat adalah ketika kita hanya berdiam diri, mengandalkan doa tanpa usaha. Jika kita ingin mendapat yang terbaik dalam hidup kita, maka mengiringinya dengan membuat "sebab" sebanyak-banyaknya adalah sesuatu yang mutlak.

Memang tidak mudah tapi selama kita mau berusaha, tidak berpangku tangan, cepat atau lambat doa-doa kita akan terjawab karena siapa yang bersabar maka akan sampai pada tujuannya dan siapa yang bersunguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya. Sudah siap melipatgandakan IKHTIAR dan DOA, 2 kunci untuk mewujudkan takdir? [ HW/Fitzel]


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "IKHTIAR dan DOA, 2 Kunci Terwujudnya Takdir"

Post a Comment