Place Your Ad Here

Sedang Mengalami Tekanan, Labil, Galau, Stress dan Depresi?Pegang 8 Poin Ini

HIJABERSWORLD.COM---Sobat pernah merasa tertekan, stress, labil, galau bahkan depresi?
Entah itu karena kesulitan finansial, takut belum pernah mandiri, susah mendapat pekerjaan, kegagalan bisnis, keluarga yang tidak mendukung, terhalang meraih cita-cita, musibah datang bertubi-tubi dan sebagainya.

Dalam keadaan mengalami hal tersebut, banyak muncul pecundang-pecundang baru.Terkadang kita juga terjatuh ke dalam kelompok seperti itu. Awalnya begitu optimis tapi karena hal-hal di atas, benteng pertahanan mereka lumpuh. Sejatinya, mental pecundang di mana pun akan kesulitan hidup. Tidak sekarang, nanti juga begitu. Untuk bisa hidup dan mencapai impian, caranya adalah memiliki keyakinan yang kuat untuk melanjutkan hidup.



Bisa dikatakan pecundang itu orang yang kalah sebelum berperang. Ada tantangan sedikit langsung stress, labil dan tertekan. Kemudian menyerah atas nama pasrah. Memang sebagai manusia biasa kita tidak bisa steril 100% dari predikat pecundang. Namun, terjatuh jadi pecundang sementara tidak mengapa, asal tidak jadi pecundang dalam jangka panjang.

Sangat disayangkan, kita akan kehilangan banyak hal yang kita miliki yang mungkin nanti akan sangat disesali. Orang bilang, kita baru sadar  betapa berartinya sesuatu setelah sesuatu itu tidak di sisi kita lagi. Yap, ini betul sekali. Apapun kesulitan dan hambatan yang dihadapi, hal yang utama adalah membuka jendela pikiran dan mata hari. Berikut beberapa hal mungkin membantu dan menjadi pegangan jika mengalami keadaan-keadaan tersebut :

1. Musuh utama adalah diri kita sendiri
Tidak ada keadaan yang sulit kalau bukan kita sendiri yang membuatnya menjadi sulit. Tanpa sadar kita sering membuat berbagai alibi kenapa kita belum bisa mewujudkan impian kita. Kita bilang belum bisa ini itu karena terhalangi keuangan, keluarga, cacat fisik, pekerjaan dan sebagainya. Sebenarnya, bila kita berpikir “ di luar kotak” segala sesuatu tidak akan menghalangi kita mencapai impian kita. 

Seringkali penghalang utamanya adalah diri kita sendiri yang terbelenggu dengan pikiran sempit kita. Masalah kapan akan tercapai impian dan kapan keluar dari kesulitan itu memang sesuai dengan keadaan kita. Hal utama adalah berhenti berpikir sesuatu itu sulit. Ini yang penting. Mau butuh waktu berapa tahun untuk memenuhi harapan, itu tidak masalah. Lalui saja. Lakukan sesuatu sesuai kemampuan kita. Nanti masa sulitnya berlalu sendiri. 

2. Pegang dan syukuri apa yang sudah kita miliki 
Kadang karena terlalu fokus pada kesulitan, hambatan dan ketakutan-ketakutan yang kita ciptakan sendiri dalam pikiran kita, kita jadi tidak mensyukuri apa yang ada di hadapan kita. Apa yang sudah kita miliki. Kita punya keluarga, punya pasangan yang mendukung kita, punya kesehatan dan sebagainya. Jangan lupakan itu. Jika kita melupakan itu pada saat terpuruk, tidak disangsikan lagi kita akan semakin terpuruk. Di saat kita merasa tertekan karena keadaan, hati juga menderita karena kita 
kehilangan. Kehilangan karena kelalaian kita sendiri baik di sengaja maupun tidak. 

Coba kita renungi kalimat ini : “Kesempatan itu ketika tidak ada dicari-cari. Sulit mendapatkannya, awalnya begitu berarti. Makin lama, makin tidak disyukuri. Kesempatan lari diri menyesal tak terhitung hari. Setelah tiada baru terasa begitu berarti. Kesempatan berpindah ke orang jadi mengutuk dalam hati. Tiba waktu sadar diri, kembali mencari-cari kesempatan lagi. Begitu dapat kesempatan tapi tidak jauh lebih baik dari sebelumnya diri pun merasa rugi dan  pengen memiliki kesempatan dulu kembali.” 

Terkadang karena sesuatu hal kita begitu mudah melepaskan kesempatan yang kita miliki. Kita lupa, butuh waktu bertahun-tahun dengan pengorbanan yang tidak sedikit baru kita bisa memiliki sebuah kesempatan. Tapi begitu kesempatan kita miliki, kita tidak mensyukuri karena kekalutan dan ketakutan kita. 

3. There is plan B,C, D dan seterusnya
Kalau kita memiliki impian, kita cenderung tertuju pada 1 impian itu saja. Kita punya mimpi A. Tapi karena berbagai keadaan mimpi A belum terwujud. Sambil keadaan memungkinkan kita bisa mencapai A, kenapa kita tidak berupaya melakukan B dan C dulu sehingga kita tidak harus kehilangan banyak hal dalam proses mencapai mimpi A. Justru dengan menjalankan B dan C akan memudahkan kita mencapai A. 

Mengapa kita harus membuat planning B, C dan D?
Jika tidak kita akan kehilangan masa-masa produktif dan akan lambat mencapai impian kita bila hanya menggantungkan dan menunggu terwujudnya mimpi A. Coba lihat modal dan kemampuan kita yang lain. Lakukan itu dulu sebelum A terwujud atau cari jalan lain. 

Jangan gantungkan hidup pada satu impian saja jika impian yang satu itu belum jelas kapan terwujudnya. Barengi dengan usaha yang lain dulu. Jika impian A sudah tercapai, mau berhenti melakukan usaha B dan C tidak mengapa. Tapi jangan menunggu impian A saja tanpa dibarengi dengan usaha B, C, D dan seterusnya.

Lantas dalam proses menuju impian itu haruskah kita mengorbankan sesuatu yang kita cintai? Tidak. Kita tidak harus kehilangan sesuatu yang kita cintai/sukai hanya karena kita belum bisa mewujudkan sebuah impian. Mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, itu tidak selalu menjadi pilihan terakhir. 

Tidak satu jalan menuju impian, itu benar. Kadang kita sering fanatik dan  lupa kalau banyak jalan menuju Roma. Kurangnya kesadaran ini membuat kita menguras hati, pikiran bahkan air mata. Tak jarang kita juga kehilangan sesuatu yang kita cintai.

4.Kekuatan berbagi dan musyawarah
Dalam mewujudkan impian kadang keluarga tidak mendukung kita. Mereka mensyaratkan kita harus begini begitu. Kadang bersikap sedikit keras, katanya untuk mendidik kita. Hal yang harus kita lakukan adalah bicara baik-baik. Ungkapkan apa yang terasa di hati kepada keluarga. 

Kadang keluarga tidak paham betul perasaan dan keinginan kita sehingga mereka adem ayem saja. Atau karena mereka khawatir pilihan dan keputusan kita tidak tepat. Jika kita memiliki impian dan bersungguh-sungguh, mereka pasti akan mendukung. Jangan biasakan kita mengambil keputusan sendiri terkait hal yang besar. Jangan pula membiarkan keluarga memutuskan sesuatu untuk kita tanpa berbicara baik buruknya terlebih dahulu dengan kita. Ini bagi mereka yang telah dewasa karena sejatinya seseorang akan menjalani hidupnya di masa depan dengan pilihannya sendiri. 

Jangan sembunyikan harapan-harapan dari keluarga. Justru ketika kita terbuka, mereka mungkin akan bersimpati dan mendukung kita sehingga impian kita segera tercapai. Kadang apa yang dianggap baik oleh keluarga untuk kita belum tentu baik untuk kita karena kita juga makhluk yang punya rasa dan pemikiran. Jadi, bicarakan perasaan dan pemikiran dengan keluarga dari hati ke hati. Dirimu tentu lebih merasakan dan yakin apa yang terbaik untuk masa depanmu. Saat seseorang dewasa, keluarga lebih berfungsi sebagai pengingat dan pendukung. 

5.Jauhi yang ribet-ribet
Ini hanya akan buang waktu, energi dan uang saja terus bikin pusing tujuh keliling plus sakit hati. Kita sering terjebak untuk mendapatkan penilaian dari manusia sehingga kita mengorbankan apa yang ada di hati kita. Jangan mengorbankan esensi karena formalitas dan seremonial belaka. Tidak perlu ribet ini itu, yang penting pegang saja esensi sesuatu. 

Dalam hal tertentu, formalitas dan seremonial kadang hanya menyusahkan kita, membuat kita semakin jauh dengan impian kita. Jangan buat yang sebenarnya sangat sederhana menjadi rumit sedemikian rupa. Jika pun sesuatu ribet dan harus dilalui, buat saja sebagai sesuatu yang sederhana dalam pikiranmu. Ikuti tahapnya satu persatu, nanti yang dirasa ribet akan kelar juga.

6.Stop memikirkan yang belum terjadi
Pernah mendengar kata bijak " di mana tumbuh di situ disiangi?". Kapan ada masalah, waktu itu di cari solusinya. Jangan pikirkan berat dan takutkan buruknya hari esok pada hari ini. Hari esok belum terjadi, kenapa ditakutkan. Jika pun terjadi, sesulit apapun pasti bisa selesai. Hidup ini akan terus berjalan. Sedih, bahagia. Sukses, gagal. Sedih, bahagia. Sukses, gagal. Rezki naik. Rezki turun. Akan selalu begitu. Jika itu jadi beban dan hambatan, kita tidak akan berbuat apa-apa. Selalu terlambat untuk mewujudkan impian.

7.Keterbukaan dan kejujuran
Umpamanya kita ada masalah dengan seseorang. Kadang kita berpikir akan mengecewakan atau membuat seseorang menderita serta merugi karena keputusan kita. Hal utama adalah berbicara dengan terbuka tentang harapan-harapan dan ketakutan kita. Jika tidak, selamanya kita akan terkungkung dalam ketakutan dan harapan yang kita ciptakan sendiri dalam pikiran kita. 

Bisa saja harapan kita sama dengan orang tapi apa yang kita takutkan tidak ada ditakutkan orang. Orang mungkin mau mencari solusi bersama kita tapi karena sikap kita yang tertutup membuat kita tidak tahu hal tersebut. 

Jangan berpikir bahwa kita akan membuat orang lain sengsara dan merugi sebelum kita membicarakan semua itu dengan yang bersangkutan. Jika terkait orang lain, jangan mengambil keputusan sendiri sebelum membicarakannya. Jika tidak, mungkin orang lain sengsara, 
kita pun sengsara akibat keputusan kita itu. 

8.Merenungi kekuasaan Allah
Allah memberi masalah bukan agar kita kalah tapi agar kita semakin pintar mengatasi masalah. 
Allah memberi kesusahan bukan agar kita berpikir semua hidup akan susah tapi agar kita bisa tahu nikmatnya sebuah keberhasilan dan bersyukur. 

Allah memberi kita hambatan bukan agar niat baik kita surut tapi melihat seberapa kuat kita memegang niat baik kita.  Ketika kita berhasil memegang niat dan melintasi masalah, akan terasa manisnya perjuangan itu. Cukup pegang niat baik saja dan terus berusaha, tiada masa sulit yang tidak bisa dilewati.  So, selesaikan jalan yang telah dipilih hingga selesai, seperti apa pun kesulitan yang dihadapi. Jika tidak, siap-siap kehilangan berbagai hal yang mungkin akan kita sesali di masa depan. 

Secara umum, semua poin itu bisa menjadi obat mengurangi rasa sakit karena tertekan, labil, galau dan stress. Kadang satu atau dua poin saja dijadikan pegangan sudah cukup membantu keluar dari keadaan yang beku. Semoga Sahabat terus bertahan dari awal hingga akhir terhadap sesuatu yang telah menjadi komitmen Sobat. Tidak setengah-setengah dan tetap berjuang menyelesaikan hingga akhir. Mampu bertahan dalam semua suasana kehidupan.

Orang bijak bilang " stress, galau dan kawan-kawannya dirasakan karena kita yang mengizinkannya tumbuh dalam diri kita." Hal yang sederhana dan tidak jadi masalah bagi orang, kadang menjadi masalah berat dan buat kita stress. Nah, semuanya kembali ke diri kita ya karena reaksi setiap orang berbeda untuk sebuah hal. [HW/Fitzel]

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Sedang Mengalami Tekanan, Labil, Galau, Stress dan Depresi?Pegang 8 Poin Ini"

  1. Wajar kok kalo terkena serangan penyakit labil galau hehe :D saya juga sering

    ReplyDelete