Place Your Ad Here

Ini 6 Alasan Kenapa Harus Pensiun Kepo Dengan Gosip dan Kehidupan Orang Lain

HIJABERSWORLD.COM---Jika seandainya suatu ketika mendengar kabar bahwa : teman yang selama ini menjadi public figur ternyata seorang penyuka sesama lawan jenis, atau ustadz yang selama ini dihormati dikabarkan melakukan tindak kekerasan dengan seorang wanita, atau saat motivator yang selama ini dikagumi seperti Mario Teguh yang diisukan tidak mengakui anaknya sendiri.

Nah, apa yang ada dipikiran? Mencari tahu lebih dalam untuk mengetahui kebenaran kah atau berhenti cukup sampai di situ saja? 

Mari berhati-hari menjaga hati, sebuah berita dan keadaan seringkali menjerumuskan kita. Salah satu sifat yang umum bertengger dalam diri kita adalah rasa penasaran atau dikenal dengan kepo pada masa sekarang sebagai istilah bahasa gaul ala anak muda. Nah, rasa kepo ini kadang tumbuh begitu besar. Sedikit-sedikit intip media sosial orang untuk mengetahui apa yang terjadi.  Atau korek-korek informasi dari orang yang mengenalnya. Ingin tahu gosip terbaru plus terhangat.

Terus kalau sudah dapat gosip yang lagi tren, biasanya tidak akan lepas dan tuntas  sampai di situ saja. Tanpa sadar akan terdorong mencari tahu apa dan bagaimana sebuah gosip tersebut. Penasaran apa benar atau tidak, mengapa terjadi, bagaimana kelanjutannya dan lainnya. Coba direnungkan, bukankah memang kadang benar demikian? Inilah watak alami kita sebagai manusia yang ingin tahu tentang segala sesuatu yang menarik perhatian.

Ikut dalam lingkaran gosip pada faktanya lebih banyak menjerumuskan bahkan menyesatkan. Tentu kita sebagai muslimah harus lebih bijak dan mawas diri. Jika terbesit keinginan untuk mendalami sebuah gosip dan rasa penasaran dengan kehidupan seseorang, tunggu dulu. Ada baiknya, kita sama-sama renungi beberapa poin berikut ini dulu  setelah itu baru putuskan mau melanjutkan gosip dan kepo atau tidak :

1. Bahwa kita juga memiliki sesuatu yang  juga layak menjadi bahan gosip bagi orang lain

Pada dasarnya setiap orang memiliki privasi tertentu yang tidak bisa dibagi dengan orang lain. Sebagian orang mungkin punya rasa penasaran tinggi ingin mengetahui mendalam dan terperinci tentang masalah cinta, ekonomi, pekerjaan dan lainnya dari seseorang.  Namun, seringkali lupa bahwa diri kita sendiri juga mungkin memiliki keadaan dan kondisi yang juga dapat digosipkan orang lain. Saat kepo dan menggosipkan orang lain, pada saat bersamaan berarti kita telah membuka jalan bagi orang untuk mengorek tentang kehidupan pribadi kita.  

2. Diri sendiri saja belum sempurna iman dan kebaikannya, untuk apa mencari celah ketidaksempurnaan orang lain. 

Kadang kita tidak sadar apa tujuan kita dalam melakukan sesuatu.Secara psikologis, kepo pasti didukung oleh motif tertentu. Mungkin pikiran dan lidah dapat berkelit tapi hati tidak dapat menyangkalnya. Biasanya kepo didasari oleh motivasi ingin mengetahui  lebih detail tentang seseorang. Nah, sebelum lanjut kepoin orang, tanyakah hati “apa maksud dan niatku melakukan ini?”.

Jika terbesit ingin mengetahui kelemahan orang, urungkanlah karena kita tidak akan sempurna karena mengorek kehidupan orang. Kita tidak akan terlihat lebih baik saat mengetahui bahwa orang tidak jauh lebih baik dari kita. Kita tidak akan menjelma menjadi sosok luar biasa, gagah dan cerdas karena mencari celah kehidupan orang apalagi ikut serta menyiarkannya. Justru saat membicarakan orang lain kelihatan kita adalah orang yang kurang kerjaan dan tidak berkelas. Kita telah menghabiskan waktu untuk hal yang tidak menambah iman dan kebaikan tapi berpotensi mencuri kebaikan dan mengundang dosa.

3. Setiap orang memiliki aib. Jika kamu membuka aibnya, Allah akan membuka aibmu juga

Allah sudah berjanji bahwa siapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya. Tutuplah aib orang sebanyak-banyaknya agar Allah menutup aib-aib kita. Semakin banyak aib orang yang ditutup, semakin bersihlah kita dari aib. Ini juga berlaku sebaliknya. Semakin banyak membuka aib orang, bisa saja semakin banyak pula aib kita yang akan terbuka. Akan ada saja cara bagi Allah untuk menunjukkan dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan dihadapan manusia lainnya.

4. Daripada sibuk mengurus orang, lebih baik mengurus kehidupan diri sendiri

Kita telah disibukkan pada sesuatu yang tidak memberikan kebaikan kepada kita bahkan dapat memberikan kerugian dalam berbagai hal. Jangan sampai kesenangan dan kekaguman sama seseorang malah menganggu ibadah, silaturahmi, mengurangi produktifitas kerja apalagi sampai menjerumuskan pada dosa. Bila sebagian besar waktu telah tersita oleh keinginan untuk mengetahui dan melihat perkembangan gosip berhati-hatilah.

5. Jika kamu mengetahui sesuatu yang buruk, yakin akan  tahan menutup mulut?

Meskipun ada sebagian kecil kepo yang berimplikasi positif tapi umumnya sebagian besar kepo seringkali berujung pada sifat dan tindakan negatif. Mungkin awalnya hanya rasa penasaran, lama kelamaan ikut terbawa dalam pusaran kabar berita.

Kepo kadang lebih sering menjerumuskan pada sifat buruk seperti bergunjing dan memfitnah.
Jika kemudian menemukan fakta buruk mengenai seseorang, kira-kira apa yang akan dilakukan? Sanggupkah menutup mulut untuk tidak memberitahu siapapun? Godaan bergunjing itu cukup besar dan sulit menahannya terlebih bagi kita yang kadar iman masih lemah. Daripada menimbulkan ketidaknyamanan dan menambah noda hitam di hati, lebih baik dihentikan dan dipotong saja sejak awal.

Saat timbul keinginan mencari tahu tentang urusan pribadi orang lebih dalam, langsung saja urungkan dan berhenti. Sudah banyak di berbagai tulisan membahas panjang lebar tentang gosip dalam Islam, hukum membicarakan orang lain, pengertian ghibah atau gosip serta bagaimana dalilnya dalam ayat Al-Qur’an serta Hadits.  Salah satu ayat yang perlu direnungkan adalah QS.Al-Hujurat ayat 12.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

6. Ah, apakah kepo dan rasa penasarannya begitu berharga sehingga mengalokasikan waktu?

Kepo dan gosip kadang menjadi satu paket. Orang yang sedang dilanda kepo, pastilah dia akan mengikuti gosip terbaru. Gosip memang sudah menjadi salah satu hal yang beredar di tengah kita baik offline maupun online. Mengikuti perkembangan gosip terbaru kadang membuat sebagian orang menjadi modern dan up to date dalam informasi. Kemudian dicarilah gosip hot dan terkini tentang selebritis seperti Ayu Ting Ting, Raffi Ahmad, Dewi Persik atau aktor Korea seperti Lee Min Hoo.

Apakah ada yang salah dengan kegiatan tersebut?Bukankah itu suka-suka kita. Memang, kita memiliki hak untuk melakukan sesuatu tapi coba kita tanya diri kita “ apakah menyimak gosip kehidupan peribadi orang begitu berharga sehingga kita menghabiskan banyak waktu khusus untuk mengikutinya?”. Ini tidak hanya gosip selebritis tapi juga tentang teman sekantor, teman semasa kuliah, atasan dan lainnya. Menyukai seorang public figur tidak masalah asalkan masih dalam koridor Islam.

Rasa penasaran tidak salah selama diarahkan untuk tujuan yang benar. Umpamanya penasaran dalam suatu bidang ilmu yang kemudian mengantarkan pada karya. Penasaran dengan kebutuhan hidup masyarakat yang kemudian menimbulkan ide bisnis.  Atau penasaran dengan perubahan seseorang untuk membantunya menjadi lebih baik bukan sekadar mengorek-ngorek keburukan dan kelemahan orang. Apalagi berpuas diri dan merasa bangga bisa tahu aib orang.

Penasaran-penasaran yang bersifat konstruktif atau membangun harus diciptakan sebanyak-banyaknya. Sebaliknya, rasa penasaran yang akan menghancurkan (desktruktif) harus dijauhi, sejauh-jauhnya. Jika tidak, hal yang dianggap biasa dan sepele tersebut akan menjerumuskan. Kepo juga bisa membuat seseorang terjatuh pada sifat prasangka buruk atau suudzon.

Biarlah kehidupan orang menjadi milik orang, kehidupan kita menjadi milik kita.  Aib mereka tetap milik mereka dan aib kita menjadi milik kita. Daripada kepo dengan manusia, lebih baik kepo (mengenal) diri sendiri agar lebih mengenal Tuhan kita atau kepo dengan segala kebesaranNya sehingga bertambahlah kecintaan kepadaNya. Mari pensiun dengan rasa kepo sesama manusia, jangan dianggap sepele karena kepo dan lingkaran gosip dapat menjadi dosa jariyah atau dosa yang mengalir terus menerus. Yuk belajar dan berlatih bersama-sama. [HW/Elshabrina]

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Ini 6 Alasan Kenapa Harus Pensiun Kepo Dengan Gosip dan Kehidupan Orang Lain"

  1. Wah kalo menurut islam emang kurang baik, lebih baik emang jangan dilanjutin deh soal KEPO ini. :) semoga banyak orang sadar dan baca artikel yang bermanfaat ini

    ReplyDelete